Kunang-kunang

Kunang-kunang.
Kira-kira apa yang terlintas di benakmu ketika mendengar kata tersebut?

Serangga? Cahaya? Kilau? Atau bahkan Punah?
Mungkin banyak dari kita tahu, Kunang-kunang adalah salah satu makhluk ciptaan sang Semesta yang ajaib.

Untuk orang awam seperti kita yang masih awam dalam hal ini mungkin akan bertanya-tanya. Bagaimana mungkin ada makhluk yang bisa menciptakan cahaya dari dalam dirinya sendiri? Tanpa listrik, tanpa baterai, bahkan tanpa bahan bakar apapun.

How come?

Disclaimer dulu. Aku salah satu manusia yang kagum dengan hewan tersebut. Aku kagum dengan cara Tuhan menitipkan keajaiban yang tak dipunya oleh makhluk lainnya di Bumi ini kepadanya. Aku kagum, teramat kagum dengan cara Tuhan menunjukkan kebesarannya dengan cara yang sederhana.

Kali pertama aku melihat kunang-kunang adalah ketika aku masih menjadi anak kecil. Waktu itu umurku sekitar 10 atau 11 tahun. Aku pun kurang ingat persisnya.
Di Tegal, Jawa Tengah. Saat aku pulang ke rumah Mbahku yang kini sudah tiada tentunya.

First Impression kala itu aku hanya cuma bisa diam, terpaku melihat kelap-kelip cahanya yang indah itu. Aku bersyukur. Aku bersyukur bisa melihat salah satu ciptaan Tuhan yang indah itu.
Walau hanya terlihat satu. Tapi aku sungguh bersyukur dan senang. Bak sebuah mimpi rasanya.
Yang dulu aku hanya bisa mendengar dari berbagai mulut kalau ada makhluk yang bisa memancarkan cahaya, kini aku bisa melihatnya secara langsung.

Lalu sekarang aku di Bandung. Di sebuah asram yang terletak di salah satu daerah di Bandung.
Asramaku bersebelahan dengan lahan kosong yang tak berpenghuni. Satu-satunya penghuni di situ ialah rumput liar dan pohon-pohon kecil.
Suatu hari saat aku lewat depan lahan tersebut. Aku dikejutkan oleh sebuah cahaya yang melayang-layang di luar pagar lahan tersebut.

Untuk beberapa saat aku tertegun pelan, dan mikir. "Itu apa ya?"
"Apa itu Kunang-kunang?"
Dan ternyata benar itu adalah Kunang-kunang.
Seketika ekspresiku berubah, yang tadinya murung kini menjadi ceria penuh senyum.
Karena ini kali pertamaku lagi semenjak aku melihat Kunang-kunang saat 13 tahun yang lalu.

Sesaat aku bertanya pada diri sendiri. "Bukankah Kunang-kunang sudah punah?"
"Bukankah sudah jarang ditemukan lagi?"

Tapi semua pertanyaanku tadi terjawab pada malam itu.
Keesokan malam harinya aku mencoba lewati lahan tersebut kembali.
And you know what? Ternyata di lahan tersebut adalah tempat tinggal mereka.
Kali ini aku melihat lebih banyak Kunang-kunang dari hari sebelumnya.

Aku terpatung sesaat. Aku kagum dan hanya bisa melek selebar-lebarnya.
"Is it real??"
Indah sekali.

Dari Kunang-kunang aku belajar, bahwa sekecil apapun dirimu di Dunia, seberbeda apapun kamu di Dunia, kamu tetap memiliki satu hal yang tak dipunya oleh makhluk lain. And it's rare!
Bukankah setiap makhluk yang ada di Dunia ini punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing?

Sama halnya dengan Manusia. Sekecil apapun dirimu, setidak percaya diri apapun kamu hidup di Dunia ini. Kamu tetap kamu yang memiliki kelebihan yang tak dipunya oleh orang lain. And you are rare!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dendrophile

Ukhti atau Ukhti?